Dampak Transisi Ekonomi Hijau, KADIN Dorong Kolaborasi Pemerintah-Swasta untuk Selamatkan Generasi Muda

oleh
Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid/Ist

JAKARTA – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Arsjad Rasjid menyatakan generasi muda Indonesia beresiko tidak mendapatkan atau bahkan kehilangan pekerjaan akibat digitalisasi dan transisi ekonomi hijau.

Hal ini dapat terjadi jika kurikulum pendidikan vokasi tidak sejalan dengan kebutuhan industri baru dan terbarukan sebagai industri masa depan.

“Jika tidak sejalan, maka pengangguran bisa kembali tercipta. Untuk itu pihak industri harus selalu bekerja sama dengan pemerintah menciptakan sistem pendidikan vokasi yang modern, terintegrasi, dan sesuai kebutuhan industri masa depan,” tegas Arsjad melalui keterangan resminya, Rabu (12/4/2023).

Kekhawatiran serupa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di tengah perkembangan teknologi yang pesat juga diungkapkan oleh Bank Dunia dalam laporan berjudul World Development Report 2019: The Changing Nature of Work.

Salah satu aspek utama dalam laporan tersebut adalah mengenai tantangan terbesar saat ini adalah untuk membekali generasi masa depan dengan keterampilan yang diperlukan untuk pekerjaan mereka di masa yang akan datang.

Permintaan Keterampilan Digital Tinggi Meski Ada Resesi dan PHK Massal

Arsjad menyadari bahwa resesi dan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di perusahaan teknologi global dan regional telah menimbulkan kekhawatiran mengenai prospek pekerjaan di bidang teknologi.

Namun, dia menegaskan bahwa permintaan terhadap keterampilan digital tetap tinggi. Hal ini didukung oleh data Kementerian Ketenagakerjaan yang memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja di sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) akan terus meningkat hingga mencapai 1.979.418 orang pada 2025.

Komitmen Indonesia Capai Net Zero Emission Dorong Peluang Pekerjaan di Industri Hijau

Selain itu, komitmen Indonesia dan dunia usaha untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat, menciptakan peluang bagi industri hijau yang memerlukan tenaga kerja dengan keterampilan yang relevan.

“Setidaknya ada 65 perusahaan yang berkomitmen menuju net zero emission dibawah payung Kadin Net Zero Hub, bayangkan 65 perusahaan dengan kemampuan mempekerjakan lebih dari 20 ribu karyawan, maka kita dapat melihat kebutuhan pasar lapangan kerja di bidang ekonomi hijau sangatlah tinggi,” tekan Arsjad.

Ditambah, Badan Energi Internasional juga memperkirakan 14 juta pekerjaan di seluruh dunia akan diciptakan oleh ekonomi hijau pada tahun 2030.

“Perusahaan akan semakin selektif dalam memilih kandidat, dengan kondisi perekonomian saat ini, sehingga kita harus memastikan bahwa generasi muda tidak hanya memiliki keterampilan digital namun juga berorientasi pada keberlanjutan,” ujar Arsjad.

Reformasi Pendidikan Vokasi Menjadi Kunci Untuk Pekerjaan Masa Depan

Untuk itu, Arsjad mendorong pemerintah untuk segera mereformasi pendidikan vokasi dan meningkatkan kerjasama dengan sektor usaha dalam mengatasi ketidakseimbangan antara kualifikasi dan keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kerja Indonesia dan kebutuhan industri.

Menurut Arsjad, reformasi pendidikan vokasi dan kerjasama pemerintah-sektor usaha harus mencakup mengembangkan payung hukum yang kuat agar pendidikan vokasi dapat berjalan dengan lancar dan kolaborasi antara industri serta lembaga pendidikan menjadi lebih efektif.

Payung hukum yang kuat ini akan menciptakan landasan yang kokoh bagi sistem pendidikan vokasi yang mampu menghasilkan tenaga kerja berkualitas sesuai dengan kebutuhan industri.

Selain itu, Arsjad menekankan perlunya penyusunan kurikulum pendidikan vokasi yang berbasis kebutuhan industri, terutama dalam bidang teknologi digital dan ekonomi hijau.

Dengan kurikulum yang sejalan dengan kebutuhan industri, lulusan pendidikan vokasi akan memiliki keterampilan yang relevan dan siap untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berubah.

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan vokasi, Kadin Indonesia juga menyoroti pentingnya meningkatkan kualitas pendidik melalui pelatihan yang intensif, seperti program “training for trainer”.

Melalui pendekatan ini, pendidik akan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan industri dan keterampilan yang harus diajarkan kepada siswa, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *