Menkeu Tekankan Penanganan Luka Ekonomi yang Berkepanjangan

oleh

 

JAKARTA – Mengawali rangkaian kegiatan Indonesia sebagai Presidensi G20, telah berlangsung pertemuan pertama Menteri keuangan dan Gubernur Bank Sentral atau Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) meeting.

Pertemuan pertama ini dibuka sambutan Presiden Indonesia Joko Widodo, Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang turut hadir dan menyambut para delegasi secara virtual.

Untuk menandai dimulainya rangkaian pertemuan seluruh Menteri Keuangan negara anggota G20, Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani memaparkan bagaimana kondisi perekonomian global terus meningkat sejak pertemuan FMCBG tahun lalu, meskipun masih ada berbagai tantangan yang perlu dihadapi.

“Indonesia memegang masa Presidensi G20 pada momentum yang sangat menantang. Di tahun ini, penanganan dampak ekonomi dan finansial dari pandemi, serta akses vaksin yang belum merata masih menjadi prioritas utama. Meskipun demikian, terdapat risiko dari sisi pengaturan kebijakan makro-fiskal salah satunya yaitu kebijakan khusus di masa pandemi yang tidak dapat terus menerus diterapkan di tengah ruang fiskal yang lebih terbatas,” ujar Sri Mulyani sebagaimana dilansir dari laman kemenkeu.go.id.

Lebih lanjut, Menteri Keuangan menyampaikan bahwa untuk mencapai pemulihan yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan pertumbuhan inklusif, penting mengatasi masalah atas luka ekonomi (scarring effect) yang berkepanjangan.

Sebagai salah satu fokus dari G20, Menteri Keuangan juga menyoroti pentingnya isu perubahan iklim yang menjadi ancaman yang lebih besar dari pandemi.

“Masa pandemi merupakan peringatan yang cukup keras kepada kita semua akan betapa rentannya ekonomi global terhadap kejutan-kejutan non tradisional. Dalam hal ini, kita harus mengingat bahwa perubahan iklim dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih besar dari pandemi. Disinilah peran G20 dibutuhkan dalam memerangi perubahan iklim. Bukan hanya dalam penurunan emisi karbon, tetapi juga menemukan skema untuk meningkatkan

dan mengarahkan lebih banyak pembiayaan dan investasi pada teknologi berkelanjutan yang memfasilitasi aksi iklim,” pungkas Sri Mulyani.

Selanjutnya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam sambutannya menekankan bahwa di tengah tantangan yang dihadapi, peran dan kepemimpinan G20 menjadi lebih penting dari sebelumnya, baik dalam mengatasi akar permasalahan, seperti memastikan kecukupan produksi dan distribusi vaksin Covid-19, maupun dalam mengatasi berbagai isu strategis pada tataran global untuk mendorong pemulihan ekonomi.

Sejalan dengan Tema Presidensi G20 Indonesia ‘recover together, recover stronger, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengajak seluruh negara anggota untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam meraih pemulihan global. Ia menyampaikan bahwa pertemuan FMCBG akan menciptakan sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk menyelesaikan masalah bersama guna mempercepat transformasi digital, menciptakan ekonomi baru, dan mendukung UKM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *