Mafindo Kendari Gelar Program Tular Nalar

oleh
Foto bersama Mafindo Kendari usai penyelenggaraan Program Tular Nalar, di Gereja Ora Et Labora, Sabtu (11/3/2023)/Ist

KENDARI – Mafindo Kendari bekerjasama dengan Gereja Protestan Sulawesi Tenggara (Gepsultra) menyelenggarakan kegiatan Akademi Digital Lansia (ADL) Program Tular Nalar, di Gereja Ora Et Labora (Orel), pada Sabtu (11/3/2023).

Dalam kegiatan tersebut, diikuti oleh 100 orang lansia yang merupakan jemaat dari beberapa gereja, seperti jemaat Mepokoaso, Maranata, Mahanaim, Efrata, Immanuel, Getsemani, Oikumene, dan Ora Et Labora.

PIC Kegiatan, Jumrana mengatakan, setelah sukses menyelenggarakan ADL pada Desember 2022 lalu bekerjasama dengan Forum Silaturrahmi Pensiunan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Forsipnatrans), Program Tular Nalar kini menyasar peserta Lansia untuk di komunitas keagamaan.

“Program Tular Nalar adalah sebuah program literasi digital dilaksanakan oleh Mafindo yang didukung oleh Google. Orang yang berfokus terhadap literasi digital untuk pengembangan berpikir kritis. Akademi Digital Lansia adalah sebuah kegiatan yang mendorong Lansia untuk berpikir kritis dalam menerima informasi di dunia maya,” jelas Jumrana dalam keterangannya, Senin (13/3/2023).

Jumrana juga membeberkan, berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, dari 270,20 juta jiwa, 11,56 persen merupakan kelompok Baby Boomer (55-70 tahun) atau Lansia.

“Survei Katadata Insight Center (KIC) menemukan hanya 28 persen Baby Boomers  yang memiliki indeks literasi digital tinggi. Kelompok ini rentan terhadap paparan konten negatif di media sosial,” ucapnya.

Sebagai digital immigrant, kata Jumrana, Lansia lahir dalam situasi dimana media digital belum ada, yang kemudian mereka harus ramai-ramai beralih ke dunia yang sepenuhnya digital, dan kebiasaan maupun budayanya, jelas sangat berbeda.

“Perhatian terhadap permasalahan warga lansia dalam penggunaan media digital sangat rendah. Program peningkatan kapasitas literasi digital sebagian besar tercurah pada kaum muda, kalangan profesional, atau kelompok produktif lainnya. Warga lansia kerap menjadi target terakhir dalam gerakan literasi digital, baik di level lokal maupun nasional,” jelasnya.

Tema literasi digital yang dibawakan kali ini adalah Aman dan pintar di media sosial, untuk membagi 5 kemampuan yang akan diberikan kepada para lansia.

Tujuan dari Akademi Digital lansia adalah pertama: memperkenalkan program Tular Nalar kepada masyarakat khususnya lansia sebagai sasaran program; kedua: melatih lansia agar memiliki kecakapan digital dalam berinteraksi di media sosial agar terhindar dari praktek kejahatan dunia maya; ketiga: Melatih lansia agar dapat melindungi data pribadi di dunia maya; keempat: melatih lansia untuk melakukan periksa fakta dengan menggunakkan beberapa metode dan alat bantu; dan kelima: memberi pembekalan maupun pengetahuan kepada lansia agar mampu menjadi agen literasi digital.

Ditempat yang sama, Korwil Mafindo Kendari, Marsia Sumule mengatakan, pelatihan ini dilaksanakan dengan model micro teaching yang melibatkan 10 orang fasilitator dari Mafindo Wilayah Kendari.

“Sejatinya lansia di Indonesia adalah individu yang dihormati dan disayangi. Rasa hormat yang besar dalam budaya Indonesia menjadikan lansia tokoh sentral dalam keluarga dan masyarakat. Support system dalam keluarga dari anak, cucu, dan caregiver pun bisa saling menguatkan peran mereka,” kata Marsia.

Ketua Prodi Jurnalistik UHO itu juga mengatakan, peran lansia dalam dunia digital sering tidak dihiraukan, padahal para lansia dapat diberdayakan secara digital.

“Pemberdayaan lansia ini dapat meliputi penguatan pemahaman terhadap lanskap media sosial, serta keamanan dan privasi,” ucapnya.

Dengan demikian Program Tular Nalar kali ini berfokus pada pemberdayaan lansia dalam program Akademi Digital Lansia, dengan harapan warga lansia dapat menularkan literasi digital yang baik pada keluarga dan lingkungannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *