BI Sultra Digitalisasi Enam Pasar Siap QRIS

oleh
Ilustrasi pembayaran digital QRIS /dok Qasir

KENDARI – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara (Sultra) telah menerapkan enam pasar siap menggunakan transaksi non tunai dengan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di beberapa wilayah provinsi tersebut.

Kepala BI Sultra Doni Septadijaya di Kendari, Selasa mengatakan enam pasar yang telah didorong menerapkan sistem pembayaran digital dengan menggunakan QRIS dilakukan bersama pemerintah setempat.

“Implementasi pasar dengan digitalisasi yang transaksi secara non tunai siap QRIS ada enam, lima di antaranya ada di Kendari dan satu di Kota Baubau,” katanya dikutip dari ANTARA.

Dia merinci, lima pasar yang telah didorong penggunaan pembayaran secara non tunai baik dari sisi pengguna maupun penyelenggara yaitu Pasar Baruga dengan pengguna QRIS kurang lebih 200 pedagang; Pasa Anduonobu 150 pedagang; Pasar Lapulu 70 pedagang.

Selanjutnya, Paddy’s Market tercatat 150 pedagang telah menggunakan QRIS; dan Pasar Tani Komoditas Hortikultura yang ada di depan Kantor Dinas Pertanian Kendari. Kemudian Pasar Wameo di Kota Baubau dengan jumlah pengguna QRIS sebanyak 300 pedagang.

Menurutnya, sistem pembayaran non tunai memberikan manfaat yang sangat besar pertama penjual tidak lagi harus menyiapkan uang kembali, transaksi lebih mudah, aman, cepat termasuk dapat menekan peredaran uang tak layak edar hingga uang palsu.

BI Sultra menargetkan program ke depan adanya toko digital yang nantinya pemilik toko akan mendorong penggunaan transaksi non tunai pada pelanggan. Selain itu, akuisisi pengguna transaksi non tunai dengan mobile banking bersama GenBI dan
perbankan akan terus di dorong.

Meski begitu, dia mengaku bahwa pihaknya masih menghadapi tantangan yakni tingkat keperdulian dan penggunaan masyarakat terkait transaksi non tunai yang belum terlalu tinggi dan kondisi infrastruktur jaringan di beberapa wilayah yang masih blank spot sehingga perluasan transaksi non tunai masih terhambat.

“Termasuk dibutuhkan komitmen Pemda dalam mendorong masyarakat menggunakan transaksi non tunai,” jelas Doni.

BI Sultra mencatat, dari sisi sebanyak 83.222 merchant di Sultra telah memanfaatkan sistem pembayaran QRIS dengan di dominasi oleh 51,92 persen usaha kecil, 33,35 persen usaha mikro, 23,76 persen usaha menengah, 1,50 persen usaha besar dan usaha lain sisanya sebesar 0,11 persen hingga Mei 2022.

BI Sultra menyebut, dari 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara, daerah pengguna QRIS terbanyak yaitu Kota Kendari sebanyak 45.881 pengguna, kedua Baubau sebanyak 9.970, ketiga Kabupaten Kolaka sebanyak 9.391 pengguna, Muna 6.189 pengguna kemudian disusul daerah lainnya.

“BI Sultra akan terus mendorong perluasan pembayaran non tunai baik dari sisi pengguna maupun sisi penyelenggara melalui program Elektronifikasi Transaksi Pemda (ETP), pasar siap QRIS dan user experience pada beberapa ajang besar di Sultra,” kata Doni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *