Perekonomian Tumbuh Positif, Investasi Sultra Mencapai Rp27.934 Triliun

oleh
Kepala DPMPTSP Sultra saat membuka Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah dalam rangka sinkronisasi program dan kegiatan tahun 2022/2023 lingkup DPMPTSP kabupaten/kota se-Sultra/Dok. DPMPTSP Sultra

KENDARI, BisnisSultra.com – Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tenggara (Sultra), realisasi investasi di Sulawesi Tenggara (Sultra) sudah melebihi dari target Kementerian Investasi/BKPM sebesar Rp21.69 triliun.

Tercatat dari triwulan I sampai triwulan IV tahun 2021, investasi di Sultra telah mencapai Rp27.934 triliun atau 128,78 persen.

Realisasi tersebut secara kumulatif sepanjang periode Januari-Desember 2021 tersebar dalam Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp4.334 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp23.600 triliun.

Kepala DMPTSP Sultra, Parinringi memaparkan, realisasi terbesar pada tahun 2021 masih didominasi Kabupaten Konawe sebesar Rp20.056 triliun,  kemudian disusul Kabupaten Konawe Selatan sebesar Rp2.665 triliun dan Kabupaten Kolaka sebesar Rp1.400 triliun.

“Selanjutnya, ada Kota Kendari dengan realisasi investasi sebesar Rp1.129 triliun, Kabupaten Kolaka Utara Rp924.525 miliar, Kabupaten Konawe Utara Rp757.218 miliar, Kabupaten Bombana Rp591.168 miliar, Kabupaten Buton Rp341.071 miliar,” papar Parinringi, Rabu (19/1/2022).

Kemudian, Kabupaten Kolaka Timur dengan realisasi investasi sebesar Rp22,636 miliar, Kota Bau-Bau sebesar Rp17,223 miliar, Kabupaten Buton Tengah Rp16,955 miliar, Kabupaten Konawe Kepulauan Rp4,858 miliar, Kabupaten Muna Barat Rp3,581 miliar, Kabupaten Wakatobi Rp2,997 miliar, Kabupaten Muna Rp484 juta, dan Kabupaten Buton Selatan Rp109 juta.

Kunjungan Kepala DPMPTSP Sultra ke DPMPTSP Kota Baubau, Rabu (12/1/2022)/Dok. DPMPTSP Sultra

Berdasarkan sektor usaha, DPMPTSP Sultra mencatat sektor industri logam dasar, barang logam dengan nilai investasi tertinggi. Pada tahun 2021 sektor ini realisasinya mencapai Rp25.221 triliun.

“Selain industri logam dasar, barang logam, sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi juga tercatat cukup baik. Realisasinya sebesar Rp575.647 miliar. Lalu disusul sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan sebesar Rp519.698 miliar, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp474.842 miliar, sektor industri mineral non logam Rp339.292 miliar dan sektor pertambangan Rp273.087 miliar” imbuhnya.

Parinringi mengungkapkan, dari catatan DPMPTSP Sultra terkait PMA di wilayah tersebut, sepanjang 2021, Hongkong menjadi salah satu negara yang menyumbangkan nilai investasi tertinggi sebesar Rp16.279 triliun.

“Itu sudah menjadi visi Pemprov Sultra di bawah pimpinan Pak Gubernur Ali Mazi, yang memang membuka ruang seluas-luasnya bagi investor yang ingin berinvestasi. Selain Hongkong ada empat negara lain yang juga menjadi investor terbesar di Sultra,” jelas Parinringi.

Hingga akhir triwulan IV 2022 selain Hongkong dari sisi PMA, Tiongkok menjadi investor terbesar kedua dengan nilai Rp4.710 miliar, lalu Singapura dengan nilai investasi sebesar Rp2.365 miliar, British Virgin Island dengan nilai investasi sebesar Rp75.293 miliar dan negara Belanda sebesar Rp32.388 miliar.

Dengan masifnya investasi yang masuk ke Sultra, kata parinringi, turut memacu serapan tenaga kerja di Sultra. Sepanjang tahun 2021 total serapan tenaga kerja disektor-sektor invetasi mencapai 16.026 orang, dengan jumlah serapan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mencapai 14.702 orang dan Tenaga Kerja Asing (TKA) sebanyak 1.324 orang.

Diungkapkannya juga pada sektor-sektor investasi tercatat PT Obsidian Stainless Steel sebagai penanam modal terbesar yang mencapai Rp15,773 triliun, menyusul PT Virtue Dragon Nickel Industry Rp4,009 triliun, PT Sungai Raya Nickel Alloy Indonesia Rp2,364 triliun.

“Lalu, PT Kovalen Mining senilai Rp907,850 miliar dan PT Ceria Nugraha Indotama sebesar Rp679,861 miliar, yang serius mendorong pertumbuhan industri khususnya industri smelter di wilayah Sultra,” ungkapnya.

Meski masih dalam kondisi pandemi, namun perbaikan keyakinan investor di tengah pembangunan proyek pemerintah dan swasta yang berlanjut, menjadi penopang utama tumbuhnya investasi.

Dikatakannya, pada 2021 target investasi Sultra Rp21,69 triliun atau 2,48 persen dengan realisasi investasi sebesar Rp27,934 triliun atau 128,78 persen. Selanjutnya target investasi tahun 2022 untuk wilayah Sultra sebesar Rp24,02 triliun.

“Kami terus mempromosikan dan mendorong potensi-potensi investasi di Sultra, sehingga kami yakin target investasi yang diberikan Kementerian Investasi bakal dapat dicapai,” demikian Parinringi.

Gubernur Sultra, Ali Mazi (kanan) dan Kepala DPMPTSP Sultra, Parinringi (kiri)/Dok. DPMPTSP Sultra

Deputi Kepala Perwakilan-Tim Perumusan dan Implementasi Kebijakan dan Keuangan Daerah Bank Indonesia (BI) Sultra, Taufik Ariesta Ardhiawan, mengatakan, dengan mencermati dinamika perkembangan ekonomi terkini, BI Sultra juga telah memperkirakan perekonomian Sultra akan tumbuh positif, lebih tinggi dibanding tahun 2020.

Dengan kondisi perekonomian global yang membaik didukung oleh aktivitas masyarakat serta peningkatan konsumsi pemerintah dan investasi menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Sultra.

“Hilirisasi yang sudah dilakukan untuk beberapa komoditas adalah hal yang baik yang perlu terus didorong dan diperluas sehingga memberikan nilai tambah secara optimal,” kata Taufik, Rabu (24/11/2021).

Menurut Taufik, sinergi juga diperlukan untuk mendorong kinerja sektor pertanian, perkebunan dan perikanan dengan mengedepankan peningkatan nilai tambah yang berkelanjutan.

Selain itu, potensi pariwisata yang dimiliki juga dapat dimaksimalkan kembali dengan perencanaan yang matang sehingga dapat memberikan manfaat terhadap masyarakat secara luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *