Dinas Pariwisata Sultra Dorong Pengembangan Ekonomi Kreatif Digital

oleh

KENDARI – Pandemi Covid-19 mmunculkan trend baru di masyarakat, media digital menjadi bagian yang memberikan pengaruh besar di berbagai aspek kehidupan.

Kebangkitan Pariwisata Secara Nasional maupun daerah, perlahan bergerak dengan berbagai metode pengembangan dalam sector kepariwisataan masing-masing.

Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), penguatan Kelembagaan Kepariwisataan, penguatan Destinasi Wisata, dan berbagai kepentingan lain dengan tujuan pemulihan dunia kepariwisataan.

Kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif, melalui Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara mengambil peran dalam mendorong pengembangan Ekonomi Digital dan Produk Kreatif khususnya yang ada diwilayah kerja Provinsi Sulawesi Tenggara.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Sultra Belli, sebagai langkah adaptasi, pelaku ekonomi kreatif diharapkan dapat segera memasuki ekosistem digital atau go online, pemerintah menargetkan pada 2024 ada 30 juta industri kreatif yang masuk ke ekosistem digital.
“Penggunaan media digital turut meningkat secara signifikan selama pandemi COVID-19.

Berdasarkan data dari YouGov, yang dikutip Facebook for Business, penggunaan media sosial naik hingga 38% selama pandemi COVID-19.

Angka tinggi ini sudah selayaknya ditangkap sebagai peluang bagi pelaku ekonomi kreatif di Indonesia untuk melakukan digitalisasi,” ujar Belli dalam Workshop Pengembangan Ekonomi Digital dan Produk Kreatif di Kendari pada 20 Juli 2022.

Terlebih lagi, lanjutnya, pandemi COVID-19 memberikan dampak yang cukup besar bagi sektor ekonomi kreatif secara global. Hal ini dapat dilihat dari sektor ekonomi kreatif Amerika Serikat pada April-Juli 2020, berdasarkan data Creative Economy Final, tercatat ada 2,7 juta pekerjaan dan sekitar US$150 miliar pemasukan hilang akibat penurunan sektor industri kreatif nasional di AS.

“Kondisi yang sama peliknya juga terjadi pada sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Dikutip dari Outlook Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia 2020/2021, data menunjukkan bahwa estimasi pertumbuhan pekerja sektor ekraf di Indonesia -2,49%.

Sementara dari data yang sama, dibandingkan tahun sebelum pandemi, pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari sektor ekonomi kreatif menjadi -2,39%,” bebernya.

Adanya penurunan angka ini, menurut Belli, tentu memberikan dampak besar bagi ekonomi nasional.

Sebagai langkah adaptasi, pelaku ekonomi kreatif diharapkan dapat segera memasuki ekosistem digital atau go online. Pemerintah menargetkan pada 2024 ada 30 juta industri kreatif yang masuk ke ekosistem digital.

Workshop Pengembangan Ekonomi Digital dan Produk Kreatif yang berlangsung di Hotel Kubra Kota Kendari (20/7/2022), menghadirkan sejumlah Narasumber berpengalaman diantaranya Ni Nyoman Lateri ( Deputi Bid. Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf ), Endah Riawati, S.ST., MM (Badan Pusat Statistik RI), Dr. Hj. Nur Endang Abbas, SE, M.Si (Dekranasda Prov. Sultra), H. Belli, SE., M.Si ( Kepala Dinas Pariwisata Prov. Sultra), Nilamsari (Pelaku Ekraf Nasional).
ShareFacebookTwitterWhatsAppTelegramLine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *