Harga Emas Naik, Imbas Investor yang Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

oleh
Ilustrasi emas/Pixabay-Hamiltonleen.

JAKARTA – Emas menguat, mengikuti sedikit kemunduran terhadap rencana kenaikan imbal hasil obligasi Amerika (US Treasury) dan menyikapi pergerakan dolar AS.

Di satu sisi, investor juga tengah mengantisipasi kenaikan suku bunga agresif dari Bank Sentral Amerika Federal Reserve (The Fed) yang tengah merumuskan kebijakan terbaru dalam rapat dewan gubernurnya.

Mengutip laporan Reuters di Bengaluru, Selasa 3 Mei 2022 atau Rabu 4 Mei 2022 dini hari WIB, harga emas di pasar spot naik 0,4 persen menjadi USD1.870,56 per ounce pada pukul 24.51 WIB, demikian laporan Reuters,

Harga emas sempat menyentuh USD1.849,90 di awal sesi, yang merupakan level terendah sejak 16 Februari.

Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat ditutup menguat 0,4 persen menjadi USD1.870,60 per ounce.

“Emas dalam beberapa pekan terakhir turun signifikan karena kurva imbal hasil meningkat. Hari ini sedikit penurunan dalam imbal hasil mendukung harga emas…Emas akan cukup terikat pada kisaran,” kata Bart Melek, analis TD Securities.

“Emas telah diperhitungkan dalam serangkaian langkah kebijakan yang cukup agresif bagi pertemuan The Fed.”

Imbal hasil US Treasury 10-tahun mundur dari level 3 persen, Selasa. Sementara itu, Indeks Dolar (Indeks DXY) turun 0,3 persen, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada akhir pertemuan dua hari, Rabu, untuk mengendalikan lonjakan inflasi, sementara komentar Chairman Jerome Powell akan dicermati untuk sinyal lebih lanjut tentang kenaikan suku bunga.

Kendati emas dianggap sebagai lindung nilai inflasi, suku bunga yang lebih tinggi mengangkat opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Jika pertemuan FOMC lebih hawkish, emas bisa turun ke level yang diindikasikan oleh imbal hasil riil. Namun, pertemuan yang dovish atau eskalasi dalam ketegangan geopolitik atau kekhawatiran inflasi, dapat mendorong emas kembali ke posisi USD1.900, tutur analis Standard Chartered dalam sebuah catatan.

“Dolar yang lebih tinggi terhadap rupee India dan renminbi China, pembeli emas fisik terbesar di dunia dapat memicu periode yang menantang bagi emas, sampai pembeli beradaptasi dengan level yang lebih tinggi,” kata analis Saxo Bank, Ole Hansen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *